Tampilkan postingan dengan label TARBIYAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TARBIYAH. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Agustus 2020

Cara Mendidik Anak Agar Menjadi Sholeh dan Shalehah



CARA MENDIDIK ANAK MENJADI SHOLEH DAN SHOLEHAH

Setiap orangtua tentunya menginginkan anak yang mereka miliki tumbuh menjadi anak yang pintar, patuh pada semua perintah orangtua, taat pada aturan agama dan memiliki akhlaq mulia seperti anak-anak yang shaleh.Namun tidak dapat dipungkiri, jika saat ini telah menjadi rahasia umum jika banyak anak memiliki perilaku yang menyimpang dari ajaran agama sehingga syariat-syariat agama tidak mampu mereka terapkan dalam kehidupannya. Hal ini tentu saja menjadi sebuah kekhawatiran yang harus segera diselesaikan dan dicari solusinya. Kehidupan seseorang tanpa dilandasi norma agama akan membuat kehidupan terasa seperti kehilangan arah. Begitu juga yang terjadi pada anak-anak, sungguh amat disayangkan jika pendidikan agama tidak diberikan kepada si kecil sejak mereka masih berusia dini. 

Orangtua mana yang tidak ingin memiliki buah hati yang shaleh dan sholehah. Untuk karena itu, orangtua harus memiliki perbekalan agar bisa memberikan pendidikan agama yang sempurna untuk anak-anaknya. Hal ini dikarenakan mendidik anak merupakan salah satu kewajiban dan tanggung jawab orang tua yang amat penting.

Nah, salah satu cara yang dapat dilakukan para orangtua yang mendambakan memiliki anak-anak yang shaleh dan shalehah selain memberikan teori pendidikan dan praktik keseharian, juga dengan senantiasa harus dibarengi dengan panjatan doa kepada Sang Khalik. Dalam membesarkan anak dan dalam hal mendiidk mereka, orangtua hendaknya menanamkan akidah dan akhlak yang baik yang sesuai dengan syariat beragama. Akidah dan akhlak yang baik merupakan jaminan kebahagiaan dan keselamatan hidup manusia, baik didunia maupun diakhirat.

Hanya saja kedua hal ini tidak didapat dengan cara yang instant dan tidak pula merupakan warisan genetik dari kedua orangtuanya. Perlu perjuangan yang panjang dan kerja keras dalam memberikan pendidikan yang baik terhadap anak agar keimanan tumbuh dalam diri mereka dan membuat akidah dan akhlak yang baik timbul dari dalam diri anak.

Untuk itulah, beberapa poin dibawah ini akan dapat membantu ibu dan orangtua dirumah mendidik dan mengasuh buah hati anda agar tumbuh menjadi seseorang yang memiliki akidah dan akhlak yang baik sehingga mereka bisa menjadi anak yang shaleh dan shalehah seperti yang ibu harapkan.

1. Berikan Contoh yang Baik

Seringkali besar harapan kita terhadap anak-anak agar mereka bisa tumbuh menjadi apa yang orangtuanya inginkan. Keinginan tersebut tentunya merupakan harapan dimana anak-anak mereka bisa menjadi seseorang yang berakhlak baik, berbudi pekerti yang luhur dan lain sebagainya. Hanya saja, harapan ini harus sebanding dengan apa yang ada dan terjadi dalam kehidupan nyata. Ketika anda menginginkan anak-anak yang shaleh, maka akan lebih baik jika kita memberikan contoh yang baik terhadap mereka. Jangan terus-tersuan mendikte anak menjadi seperti yang anda inginkan, jika kita sendiripun tak mampu menjadi panutan yang baik untuk mereka.

Kecenderungan seorang anak adalah peniru, mereka akan meniru dan mengadaptasi semua hal yang terjadi dan mereka lihat dilingkungannya. Dengan memberikan contoh yang baik diharapkan anak-anak akan mampu mencontohnya dan mengaplikasikan perbuatan yang baik dalam kehidupan mereka sehari-hari. Selain itu, dengan menjadi tauladan yang baik untuk anak-anak maka tidak ada alasan untuk mereka menolak perintah atau nasihat para orangtuanya.

2. Ciptakan Suasana Islami Melalui Pendidikan dan Pergaulan

Salah satu faktor lain yang menunjang terbentuknya jiwa dan kepribadian shaleh dan shalehah pada diri anak adalah dengan membawa dan menciptakan nuansa islami lewat pendidikan dan pergaulannya. Anak tentu tidak akan mengenal apa itu akidah dan bagaimana menjadi seorang anak shaleh jika pendidikan islami tidak diperkenalkan sejak dini.

Untuk itu, ciptakan suasana dan nuansa islami dalam dunia pendidikan dan lingkungan anak. Selain itu, hal ini juga akan mampu membangun karakter anak menjadi lebih baik. Untuk cara ini, misalkan ibu dan orangtua lain bisa mendaftarkan anak ke sekolah islam atau pondok pesantren. Jika anak-anak sering bergaul dalam lingkungan yang islami, maka insya allah setiap tutur kata dan perbuatan mereka akan lebih santun. Namun tentunya hal ini perlu diterapkan dan ditanamkan sejak dini.

3. Biasakan Membangunkan Anak Pada Waktu Subuh

Seseorang yang bangun diwaktu subuh seringkali diidentikan dengan orang-orang shaleh yang taat dalam hal beragama, bahkan orang dewasapun masih banyak yang sulit bangun diwaktu ini untuk melaksanakan shalat subuh. Untuk itulah, tidak ada salahnya biasakan anak untuk bangun diwaktu subuh dan segera tunaikan ibadah shalat subuh. Hal ini tentunya perlu dibangun dan dibiasakan saat anak masih berusia dini agar nantinya kebiasaan ini terbawa hingga mereka besar nanti.

Akan ada banyak rintangan yang mungkin ibu hadapi ketika menerapkan kebiasaan bangun subuh pada anak-anak, salah satu faktornya adalah tidak tega membangunkan mereka yang masih terlelap tidur atau bahkan si anak rewel karena masih mengantuk. Namun percayalah, jika dibiasakan perlahan namun pasti hal ini akan terasa lebih mudah.

4. Ajarkan Si Kecil Untuk Selalu Membawa Peralatan Shalat

Shalat 5 waktu adalah ibadah yang wajib yang harus dilakukan setiap umat muslim diseluruh dunia yang tentunya jika salah satu waktunya dilewatkan maka akan menjadi dosa untuk mereka yang melakukannya. Nah, untuk menanamkan ketaatan beragama pada anak agar mereka tumbuh menjadi shaleh dan shalehah adalah dengan mengingatkan mereka untuk tidak melewatkan waktu shalat dimanapun mereka berada. Salah satu bentuk mengingatkan anak-anak untuk tidak melewatkan waktu shalat adalah dengan mempersiapkan peralatan shalat dan mengingatkan mereka untuk selalu membawanya bahkan saat mereka berpergian.

5. Ajak Anak Berwisata Islami

Dewasa ini meskipun masih berusia begitu kecil, orangtua lebih senang membawa anak-anak mereka ke mall dan memperkenalkan berbagai macam hal baru pada anak-anaknya. Namun tanpa disadari wisata islami seringkali diabaikan karena kesenangan dunia yang begitu menggoda. Untuk itu, mulailah merubah segala kebiasaan yang kurang berguna, daripada terlalu sering mengajak mereka berwisata ke mall atau mengunjungi tempat-tempat wisata yang berharga mahal, ada baiknya jika bunda mengajak anak-anak berwisata islami seperti bersafari ke mesjid-mesjid. Selain memperkenalkan mereka pada sesuatu yang baru, hal ini akan semakin menumbuhkan kecintaannya terhadap agama dan ketaatannya kepada Tuhan.

6. Kenalkan Batasan Aurat Pada Anak Sejak Mereka Kecil

Umumnya saat ini banyak anak yang memilih mengenakan model pakaian yang baru dan sesuai dengan perkembangan zaman tanpa memperdulikan syariat dan aturan berpakaian dalam Islam yakni dengan menutup aurat, maka tak heran jika saat ini banyak kita jumpai anak-anak berpakaian ketat, pendek dan bahkan tembus pandang. Hal ini tentunya tidak baik untuk anak-anak kita calon penerus bangsa. Untuk itulah, ajarkan pada anak batasan-batasan aurat sewaktu mereka berbusana.

Cara Mendidik Anak Bersosialisasi




CARA MENDIDIK ANAK BERSOSIALISASI

Cara Bunda berinteraksi dengan anak, atau dengan orang lain, dapat ditiru buah hati. Karena itu, pastikan Bunda selalu memberi contoh interaksi yang baik dalam bersosialisasi.

1. Beri Contoh Positif

Beberapa anak punya insting atau bakat bersosialisasi yang baik. Mereka tidak akan ragu memulai percakapan dengan anak atau orang lain dan mudah bergaul. Ada pula anak yang lebih cenderung pemalu saat bertemu orang baru. Bagaimana pun, berikan beberapa contoh interaksi positif kepada buah hati.

Bunda bisa mengajarkan kalimat-kalimat pembuka percakapan yang mudah kepada buah hati. Misalnya, “Halo, nama saya Bulan. Kamu siapa?” atau “Halo, mau main?”. Saat mengucapkan kalimat ini, gunakan intonasi positif dan ajarkan pula bagaimana bereaksi terhadap kemungkinan jawaban yang diberikan.

2. Dukung Pertemanan Anak

Menjalin persahabatan adalah sarana yang tepat untuk mengembangkan keahlian sosialisasi anak. Jangan khawatir jika buah hati tidak punya banyak teman, sepanjang ia masih punya beberapa teman dekat di sekitarnya.

Bunda bisa membantu menunjukkan dukungan dengan cara menanyakan kepada buah hati tentang temannya. Dorong dan pupuk pertemanan buah hati supaya ia semakin leluasa dan percaya diri berada dalam lingkungan sosial. Pada akhirnya, buah hati akan semakin membuka diri terhadap pertemanan lain.

3. Persiapkan Anak

Cara mendidik anak dalam hal bersosialisasi juga membutuhkan persiapan anak, terutama untuk skenario atau situasi tertentu. Misalnya, jika anak akan berangkat ke pesta ulang tahun teman atau area bermain, berikan beberapa tips kepada anak. Ajarkan cara mengucapkan selamat ulang tahun, atau cara mendekati teman untuk mengajak bermain. Dengan demikian, anak tidak akan merasa grogi karena tidak tahu bagaimana harus bersikap dalam situasi tertentu.

4. Beri Kesempatan Bersosialisasi

Bantu anak bersosialisasi dengan memberikan kesempatan untuk bergaul dengan anak lain. Bunda boleh berpartisipasi dalam komunitas orang tua dari teman sekelas anak. Namun, Bunda haru bisa membatasi diri dan tidak terlalu mengontrol dalam pertemanan buah hati.

Orang tua tidak disarankan langsung menengahi anak secara langsung saat bermain dengan temannya. Sebaiknya supervisi dilakukan dari jarak jauh dan ajak anak berdiskusi tentang sesi bermainnya tanpa mengkritik.

Setiap kesempatan sosialisasi yang Bunda ciptakan menjadi ajang pelatihan keahlian sosial yang baik bagi buah hati. Perhatikan gerak gerik anak sambil mempelajari cara untuk semakin memantapkan kemampuan bergaul mereka.

5. Jadi Panutan yang Baik

Salah satu cara mendidik anak terbaik dalam bergaul adalah menjadi panutan yang bisa diandalkan. Orang tua juga harus mampu menunjukkan kemampuan menjalin hubungan persahabatan, baik dari yang sederhana seperti bertegur sapa, berinteraksi, dan beradaptasi dengan lingkungan sesama orang dewasa. Ajak anak untuk juga turut menyapa, memberi salam, dan mengucapkan kata perpisahan dengan sopan.

6. Cari Bantuan Profesional

Tipe anak pemalu biasanya perlu bantuan Bunda untuk bergaul. Bagi beberapa anak, masalah ini biasanya akan perlahan menghilang sambil bertambah usianya. Namun, bagi beberapa anak, ketidakmampuan bersosialisasi bisa merupakan pertanda masalah lebih serius.

Jika anak memiliki masalah sosialisasi yang cukup mencemaskan Bunda, tidak ada salahnya jika berkonsultasi kepada dokter anak.

Sabtu, 08 Agustus 2020

Pendidikan Anak Tanggung Jawab Orang Tua


Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata,
أدب ابنك فإنك مسؤول عنه ما ذا أدبته وما ذا علمته وهو مسؤول عن برك وطواعيته لك
Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”(Tuhfah al Maudud hal. 123). 
Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari mereka anak-anak mula-mula menerima pendidikan. Corak pendidikan dalam rumah tangga secara umum tidak berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan secara kodrati suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situsi atau iklim pendidikan (Joesafira.2011)
18
Timbulnya iklim atau suasana tersebut, karena adanya interaksi yaitu hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anak. Sebagai peletak pertama pendidikan, orang tua memegang peranan penting bagi pembentukan watak dan kepribadian anak, maksudnya bahwa watak dan kepribadian tergantung kepada pendidikan awal yang berasal dari orang tua terhadap anaknya. Orang tua (ayah dan ibu) memegang peranan yang penting dan sangat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya. Sejak anak lahir, ibu yang selalu ada di sampingnya. Oleh karena itu seorang anak pada umumnya lebih cinta kepada ibu karena ibu merupakan orang yang pertama dikenal anak. Maka dari itu ibu harus menanamkan kepada anak, agar mereka dapat mencintai ilmu, membaca lebih banyak, lebih dinamis, disiplin, dan ibu memberikan motivasi yang sehat dan menjadi teladan bagi anak mereka.
Menurut Hasbullah (1997), dalam tulisannya tentang dasar-dasar ilmu pendidikan, bahwa keluarga sebagai lembaga pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu fungsi dalam perkembangan kepribadian anak  dan  mendidik anak dirumah; fungsi keluarga/orang tua dalam mendukung pendidikan di sekolah.( Salamah Azhar. 2011)
1.      Fungsi keluarga dalam pembentukan kepribadian dan mendidik anak di rumah:
a.       sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak
b.      menjamin kehidupan emosional anak
c.       menanamkan dasar pendidikan moral anak
d.      memberikan dasar pendidikan sosial
e.       meletakan dasar-dasar pendidikan agama
f.       bertanggung jawab dalam memotivasi dan mendorong keberhasilan anak
g.      memberikan kesempatan belajar dengan mengenalkan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi   kehidupan kelak sehingga ia mampu menjadi manusia dewasa yang mandiri.
h.      menjaga kesehatan anak sehingga ia dapat dengan nyaman menjalankan proses belajar yang utuh.
i.        memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat dengan memberikan pendidikan agama sesuai ketentuan Allah Swt, sebagai   tujuan akhir manusia.

2.      Fungsi keluarga/ orang tua dalam mendukung pendidikan anak di sekolah :
a.       Orang tua bekerjasama dengan sekolah
b.      Sikap anak terhadap sekolah sangat di pengaruhi oleh sikap orang tua terhadap sekolah, sehingga sangat dibutuhkan   kepercayaan orang tua terhadap sekolah  yang menggantikan tugasnya selama di ruang sekolah.
c.       Orang tua harus memperhatikan  sekolah anaknya, yaitu dengan memperhatikan pengalaman-pengalamannya dan   menghargai segala usahanya.
d.      Orang tua menunjukkan kerjasama dalam menyerahkan cara belajar   di rumah, membuat pekerjaan rumah dan memotivasi   dan membimbimbing anak dalam belajar.
e.       Orang tua bekerjasama dengan guru untuk mengatasi kesulitan belajar anak
f.       Orang tua bersama anak mempersiapkan jenjang pendidikan yang akan dimasuki dan mendampingi selama menjalani   proses belajar di lembaga pendidikan.
Untuk dapat menjalankan fungsi tersebut secara maksimal, sehingga orang tua harus memiliki kualitas diri yang memadai, sehingga anak-anak akan berkembang sesuai dengan harapan. Artinya orang tua harus memahami hakikat dan peran mereka sebagai orang tua dalam membesarkan anak, membekali diri dengan ilmu tentang pola pengasuhan yang tepat, pengetahuan tentang pendidikan yang dijalani anak, dan ilmu tentang perkembangan anak, sehingga tidak salah dalam menerapkan suatu bentuk pola pendidikan terutama dalam pembentukan kepribadian anak yang sesuai denga  tujuan pendidikan itu sendiri untuk mencerdasakan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Pendampingan orang tua dalam pendidikan anak diwujudkan dalam suatu cara-cara orang tua mendidik anak. Cara orang tua mendidik anak inilah yang disebut sebagai pola asuh. Setiap orang tua berusaha menggunakan cara yang paling baik menurut mereka dalam mendidik anak. Untuk mencari pola yang terbaik maka hendaklah orang tua mempersiapkan diri dengan beragam pengetahuan untuk menemukan pola asuh yang tepat dalam mendidik anak.

Pola Asuh Orang Tua

 



1.      Pengertian Pola Asuh Orang Tua
Anak atau siswa adalah anugrah Allah dan sekaligus ujian, sebagai anugrah harus disyukuri, sebagai ujian berarti peluang untuk naik kelass kejenjang yang lebih tinggi. Orang tua dituntut untuk memberikan kasih sayang yang tulus dan mendidik, bukan memanjakan dan melindungi secara berlebihan karna akan berdampak anak menjadi manja dan inginnya selalu dilayani. Biarkan mereka tumbuh menjadi jiwa yang mandiri, terlatih, percaya diri dan tegar menghadapi kehidupannya. Orang tua tidak boleh memaksakan terhadap kemampuan seseorang, tetapi pendidikan bersifat membimbing dan mengarahkan agar potensi yang dimiliki oleh anak dapat berkembang dengan baik. Sebagaimana yang dinyatakan Zakiyah Daradjat, bahwa kepribadian orang tua, Berpikir dan cara hidup merupakan unsur-unsur pendidikan yang secara tidak langsung akan masuk kedalam pribadi yang sedang tumbuh. ( Zakiyah Daradjat, 1996:56)
Pola asuh terdiri dari dua kata yaitu, “pola” dan “asuh”. Menurut kamus besar bahasa indonesia, “pola” berarti corak, model,sistem cara kerja, bentuk ( struktur) yang tepat. ( Depdikbud, 1988:54). Sedangkan kata “asuh” dapat berarti menjaga (merawat dan mendidik) anak kecil, membimbing (membantu, melatih, dan sebagainya), dan memimpin(mengepalai dan menyelenggarakan) satu badan atau lembaga. (TIM Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1988:692), lebih jelasnya kata asuh adalah mencakup segala aspek yang berkaitan dengan pemeliharaan, perawatan, dukungan, dan bantuan sehingga orang tetap berdiri dan menjalani hidupnya secara sehat.
Menurut ( Markum, 1999:49) pola asuh adalah cara orang tua mendidik anak dan membesarkan anak yang dipengaruhi oleh beberapa faktor budaya, agama, kebitasaan, dan kepercayaan, serta pengaruh kepribadian orang tua ( orang tua sendiri atau yang mengasuhnya).
Mussen (1994, 395) berpendapat bahwa pola asuh adalah cara yang digunakan orang tua dalam mencoba berbagai strategi untuk mendorong anak mencapai tujuan yang diinginkan. Tujuan tersebut antara lain pengetahuan, nilai moral, dan standar prilaku yang harus dimiliki anak bila dewasa nanti. Pernyataan yang sama juga dikemukakan oleh Gunarsa (1990) bahwa pola asuh adalah suatu gaya mendidik yang dilakukan oleh orang tua untuk membimbing dan mendidik anak-anaknya dalam proses interaksi yang bertujuan memperoleh suatu prilaku yang diinginkan.
Hurlock (1999 : 59) mengatakan bahwa pola asuh dapat diartikan pula dengan kedisiplinan. Disiplin merupakan cara masyarakat mengajarkan kepada anak prilaku moral yang dapat diterima kelompok. Adapun tujuan kedisiplinan adalah memberitahukan kepada anak sesuatu yang baik dan buruk serta mendorongnya untuk berprilaku dengan standar yang berlaku dalam masyarakat dilingkungan sekitarnya. 
Khon yang dikutip oleh Putri (2007) menyatakan bahwa pola asuh merupakan Berpikir orang tua dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. Berpikir orang tua ini meliputi cara orang tua memberikan aturan-aturan, hadiah, maupun hukuman, cara orang tua menunjukan otoritasnya, dan cara orang tua memberikan perhatian serta tanggapan terhadap anaknya.
Pendapat Baumrind yang dikutip oleh Yusuf (2004 : 51) mendefinisikan pola asuh sebagai pola Berpikir atau perlakuan orang tua terhadap anak yang masing-masing mempunyai pengaruh tersendiri terhadap prilaku anak , antara lain terhadap kompetensi emosional, sosial dan intelektual anak.
Dari berbagai uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pola asuh orang tua adalah cara orang tua dalam mendidik serta merawat anaknya sebaik mungkin dengan cara tersendiri yang dimiliki setiap orang tua agar anaknya tumbuh dan berkembang menjadi anak yang berpengetahuan dan memiliki akhlak serta moral yang baik.
2.      Jenis Pola Asuh Orang Tua
Menurut Rifa (2009 : 54) ada empat pola pengasuhan orang tua sebagai orang yang memiliki tanggung  jawab yang besar pada anaknya, yaitu :
a.       Pola pengasuhan Autoritatif. Pola pengasuhan ini memprioritaskan kepentingan anak dibandingkan dengan kepentingannya sendiri, namun mereka tidak ragu-ragu mengendalikan anak. Hal ini dapat membimbing anak untuk mandiri dan independen.
b.      Pola pengasuhan Otoriter. Orang tua menilai dan menuntut anak untuk mematuhi standar mutlak yang ditentukan sepihak oleh orang tua atau pengasuh, memutlakkan kepatuhan dan rasa hormat atau sopan santun. Anak-anak dalam pengasuhan ini cenderung menarik diri secara sosial, kurang spontan, dan tampak kurang percaya diri.
c.       Pola pengasuhan penyabar dan pemanja. Segala sesuatunya justru berpusat pada kepentingan anak., sedangkan para orang tua tidak mengendalikan prilaku anak sesuai dengan kebutuhan perkembangan kepribadian anak. Anak-anak akan tumbuh dengan kepribadian kurang matang secara sosial (manja), impulsive, mementingkan diri dan kurang percaya diri (cengeng).
d.      Pola pengasuhan Penelantar. Orang tua dalam pengasuhan ini cenderung membiarkan anak tumbuh kembang dengan sendirinya, mereka membebaskan anak bermain sepuasnya dengan teman-temannya tanpa adanya pengawasan. Biasanya anak dalam pengasuhan ini lebih senang bersama teman-temannya dibanding bersama orang tuanya sendiri.
Menurut Gardon (1991 : 115), ada tiga macam sistem bagaimana orang tua mendidik atau menjalankan perannya sebagai orang tua, yaitu :
a.       Sistem Otoriter. Pola asuh dimana individumenggunakan peraturan-peraturan yang ketat dan menuntut agar peraturan peraturan ini dipatuhi. Orang tua yang bersifat otoriter dan memberikan kebebasan penuh menjadi pendorong bagi anak untuk berprilaku agresif. Orang tua tidak mendukung anak untuk membuat keputusan sendiri, selalu mengatakan apa yang harus dilakukan anak tanpa menjelaskan mengapa anak harus melakukan hal tersebut. Akibatnya, anak kehilangan kesempatan untuk belajar bagaimana mengendalikan prilakunya sendiri. Ada larangan-larangan yang diperlakukan orang tua yang tidak masuk akal, seperti tidak boleh bermain diluar rumah. Pola asuh otoriter ini dapat membuat anak sulit menyesuaikan diri. Ketakutan anak terhadap hukuman justru membuat anak tidak jujur dan licik.
b.      Sistem permisif. Pola asuh yang memberikan kebebasan pada individu tanpa mengambil keputusan tanpa adanya kontrol dan perhatian orang tua, atau cenderung sangat pasif ketika menanggapi ketidak patuhan. Orang tua permisif tidak begitu menuntut, juga tidak menetapkan sasaran yang jelas bagi anaknya, karena yakin bahwa anak-anak seharusnya berkembang sesuai dengan kecenderungan alamiahnya. Akibatnya, anak menjadi cemas, takut, dan agresif serta terkadang menjadi pemarah karna menganggap orang tua kurang memberi perhatian. Bagi beberapa orang dilingkungannya, anak yang terlalu dibebaskan itu dianggap anak yang manja.
c.       Sistem otoritatif. Berpikir orang tua yang memberi bimbingan tetapi tidak mengatur. Pola asuh otoritatif menghargai anak-anaknya tetapi menuntut mereka memenuhi standar tanggung jawab yang tinggi kepada keluarga, teman sebaya dan masyarakat. Atau disebut pola asuh demokratif. Dengan adanya pola asuh otoritatif anak lebih percaya diri, mandiri, imajinatif, mudah beradaptasi, dan disukai banyak orang, yakni anak-anak dengan kecerdasan emosional berderajat tinggi.

Nurhiayah dkk ( dalam Sshochib, 1995 :90) juga menjelaskan bahwa dalam pola asuh dan Berpikir orang tua yang demokratis menjadikan adanya komunikasi yang dealogis antara anak dan orang tua.
Lain halnya dengan Baumrind ( dalam Mussen 1994 : 399) juga membagi pola asuh orang tua menjadi tiga bagian yaitu : otoriter, permisif dan demokratis.
a.       Pola Asuh Otoriter
Pola asuh ini menggunakan pendekatan yang memaksakan kehendak, sesuatu peraturan yang dicanangkan orang tua dan harus dituruti oleh anak. Pendekatan ini biasanya kurang reponsif pada hak dan keinginan anak. Agar lebih dianggap sebagai obyek yang harus patuh dan menjalankan aturan ketidak berhasilan kemampuan dianggap kegagalan. Ciri-cirinya adalah orang tua membatasi anak, berorientasi pada hukuman, mendesak anak untuk mengikuti aturan-aturan tertentu, serta orang tu angat jarang dalam memberikan pujian pada anak. Dalam hal ini anak akan timbul banyak kekhawatiran apabila tidak sesuai dengan orang tuanya dalam melakukan sesuatu melakukan kegiatan, sehingga anak tidak dapat mengembangkan Berpikir kreatifnya serta hubungan orang tua yang digunakan memungkinkan anak untuk menjaga jarak dengan orang tuanya.
b.      Pola Asuh Permisif
Pola asuh ini sangat bertolak belakang dengan pola asuh diatas yang menggunakan pendekatan dengan kekuasaan orang tua. Permisif dapat diartikan orang tua yang serba membolehkan atau suka mengijinkan. Pola pengasuhan ini menggunakan pendekatan yang sangat reponsif (bersedia mendengarkan) tetapi cenderung terlalu longgar. Ciri-ciriinya adalah orang tua lemah dalam mendisplikan anak dan tidak memberikan hukuman serta tidak memberikan perhatian dalam melatih kemandirian dan kepercayaan diri. Kadang-kadang anak merasa cemas karena melakukan sesuatu yang salah atau benar. Tatapi karena orang tua membiarkan mereka melakukan apa saja yang mereka rasa benar dan menyengankan hati mereka, sedangkan orang tua cenderung membiarkan prilaku anak, tetapi tidak menghukum perbuatan anak, walaupun prilaku dan perbuatan anak tersebut buruk.

c.       Pola Asuh Demokratis
Pola asuh ini menggunakan pendekatan rasional dan demokratis orang tua sangat memperhatikan kebutuhan anak dan mencukupinya dengan pertimbangan faktor kepentingan dan kebutuhan yang realistis. Orang tua semata-mata tidak menuruti keinginan anak, tetapi sekaligus mengajarkan pada anak mengenai kebutuhan yang penting bagi kehidupannya. Ciri-cirinya adalah mendorong anak untuk dapat berdiri sendiri, memberi pujian pada anak, serta berBerpikir hangat dan mengasihi. Dalam pengasuhan ini anak akan merasa dihargai karna setiap perlakuan dan permasalahan dapat dibicarakan dengan orang tua yang senantiasa membuka diri untuk mendengarkannya.
Lain halnya Hurlock (1996) juga mengatakan bahwa prilaku orang tua terhadap anak sesuai dengan tipe pola asuh yang dianutnya diantaranya adalah:
1.      Pola Asuh Otoriter
Prilaku orang tua dalam kehidupan keluarga adalah :
a.       Orang tua menentukan segala peraturan yang berlaku dalam keluarganya.
b.      Anak harus menuruti atau mematuhi peraturan-peraturan yang ditentukan orang tua tanpa kecuali.
c.       Anak tidak diberitahu alasan mengapa peraturan tersebut ditentukan.
d.      Anak tidak diberi kesempatan untukmengungkapkan pendapatnya mengenai peraturan-peraturan yang telah ditetapkan orang tua.
e.       Kemauan orang tua dianggap sebagai tugas atau kewajiban bagi anak.
f.       Bila tidak mengikuti peraturan yang berlaku, maka hukuman yang diberikan berupa hukuman fisik.
2.      Pola Asuh Permisif
Prilaku orang tua dalam kehidupan keluarga adalah :
a.       Tidak pernah ada peraturan dari keluarga.
b.      Anak tidak pernah dihukum.
c.       Tidak ada ganjaran dan pujian karena prilaku dari sianak.
d.      Anak bebas menentukan kemauannya atau keinginannya.
3.      Pola Asuh Demokratis
Prilaku orang tua dalam kehidupan keluarga adalah :
a.       Orang tua sebagai penentu peraturan.
b.      Anak berkesempatan untuk menanyakan alasan mengapa peraturan itu di buat.
c.       Anak boleh ikut andil dalam mengajukan keberatan atas peraturan yang ada.

Dari berbagai keterangan diatas berbagai jenis pola asuh orang tua sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, perkembangan mental dan pendidikan sang anak, terhadap pola fikir dan Berpikir kritis anak dalam belajar. Salah satunya adalah pola asuh Demokratis yang sangat baik ditanamkan orang tua pada anaknya. Berpikir kritis anak juga dapat ditunjukan dalam proses pembelajaran dikelas pola asuh orang tua mempengaruhe perkembangan mental anak dalam berkehidupan social khususnya dalam proses pembelajaran disekolahnya.

Pola Asuh Orang Tua pengaruhnya terhadap pembentukan karakter sikap kritis anak

 




Anak termasuk individu unik yang mempunyai eksistensi dan memiliki jiwa sendiri,serta mempunyai hak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan iramanya masing-masing yang khas. Masa kehidupan anak sebagian berada dalam lingkungan keluarga. Karena itu, keluargalah yang paling menentukanterhadap masa depan anak,begitu pula corak anak dilihat dari perkembangan sosial, psikis, fisik dan relejiulitas juga ditentukan oleh keluarga.( Dalam Rifa Hidayah, 2009:15)
Rasulullah saw bersabda:
مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ اِلا يُوْلَدُ عَلىَ الْفِطْرَةِ فَاَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْيُنَصِّرَانِهِ اَوْيُمَجِّسَانِهِ
 “Tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan dalam keadaan fitrah,karna kedua orang tuanyalah yang membuatnya yahudi,nasrani maupun majusi”.(H.R. Bukhori Muslim dalam uhbiati, 2005:102).

Firman Allah SWT:

 “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka …. (Soenarjo dkk,1971: 155).




1
Orang tua mempunyai tanggung jawab untuk mengantarkan putra putrinya untuk menjadi seorang yang sukses dan bagi orang tua penting memahami dan memperhatikan perkembangan anak.
Pola asuh yang baik dan Berpikir positif lingkungan serta penerimaan masyarakat terhadap keberadaan anak akan menumbuhkan konsep diri positif bagi anak dalam menilai diri sendiri. Anak menilai dirinya berdasarkan apa yang dialami dan dapatkan dari lingkungan. Jika lingkungan masyarakat memberikan Berpikir yang baik dan positif serta tidak memberikan label atau cap yang negative pada anak, maka anak akan merasa dirinya cukup berharga sehingga tumbuhlah konsep diri yang positif.( Rifa Hidayah, 2009:16)
Anak dilatih untuk Berpikir obyektif, dan menghargai diri sendiri, dengan selalu berfikir positif untuk diri mereka sendiri, dengan mencoba bergaul dengan teman yang lebih banyak. Artinya masyarakat pun harus menerima dan memberi kesempatan pada anak bergaul dengan masyarakat secara luas tanpa pilih kasih/meskipun bukan bergaul dengan golongannya.( Rifa Hidayah, 2009:16)
Anak adalah amanat Allah karna itu sudah menjadi kewajiban bagi orang tua untuk mendidik anaknya dengan sebaik-baiknya, bukan hanya materi dan belas kasihan saja yang dibutuhkan anak, tatapi anak juga membutuhkan kasih sayang, pendidikan pola asuh layaknya anak pada umumnya serta kebutuhan lainnya, seperti kebutuhan fisik, psikologis, spiritual dan kebutuhan sosial anak.( Rifa Hidayah, 2009:82)
Berdasarkan Survai yang saya lakukan di MTs NU Syeh Mengger Jati Desa Dukuh Kecamatan Kapetakan Kabupaten cirebon siswa disini memiliki berbagai Berpikir, ada anak yang ketika guru menerangkan didepan mereka cenderung diam, namun tidak tahu diiam karna ia paham atau malah mereka tidak mengerti sama sekali apa yang telah disampaikan oleh guru nya. Adapula ketika guru menerangkan anak cenderung selalu marasa penasaran dan selalu mananyakan apa yang  belum mareka katahui, mereka kritis dalam menanyakan apa yang belum dipahami.
Kritis dan tidaknya anak ketika disekolah bukan hanya karna guru dan dari anak itu sendiri namun juga karna dukungan dan motivasi keluarga dirumah. Orang tua adalah orang yang paling berperan dalam pendidikan anaknya. Berpikir tegas wajib diterapkan orang tua kepada anaknya agar sang anak merasa diperhatikan dan Berpikir tegas orang tua dapat mempengaruhi prestasinya dan juga Berpikir kritis anak disekolah.
Anak yang cenderung selalu diperhatikan orang tuanya terutama dalam hal pendidikan, akan cenderung lebih aktif, kritis, lebih percaya diri dalam belajar dan selalu semangat dalam belajar. Orang tua yang kurang memberikan perhatian dalam pendidikan anaknya, adalah orang tua yang kurang peduli pada pendidikan anaknya, yang akan berdampak pada prestasi anak di kelas, anak akan cenderung kurang fokus dalam belajar, kurang aktif, tanggap, kurang kritis dikelas dan tidak menunjukan bakat yang ia miliki.
Pola asuh orang tua sangat bergantung pada keberhasilan dan Berpikir aktif anak disekolah, orang tua juga hendaknya memberikan motivasi pada anak agar anak lebih percaya diri,dapat menghargai diri sendiri, menimbulkan rasa percaya diri dan selalu berBerpikir posistif dalam bertindak. Berpikir kritis anak juga bisa dilihat ketika didalam kelas apakah anak itu aktif atau diam ketika guru menerangkan pelajaran.
Setiap anak wajib mendapatkan perhatian serta pola asuh yang baik dari orang tuanya, anak akan merasa semangat dalam belajar apabila orang tuanya selalu memberi semangat serta motivasi yang kuat. Anak akan cenderung lebih lebih merasa bisa ketika orang tua selalu mendampingi anaknya ketika sedang belajar,anak lebih merasa diperhatikan dan akan timbul rasa sungguh-sungguh dalam belajar. Semua orang tua diharapkan mampu memotivasi anak agar tumbuhlah Berpikir aktif anak dan Berpikir kritis dalam belajar.
Anak itu sangat bergantung pada pendidikan yang telah diberikan oleh orang tuanya. Contoh saja orang yang memberikan pendidikan pada anaknya,memberi motivasi serta semangat dalam pembelajaran anaknya maka sang anak akan cenderung lebih siap menghadapi pelajaran di sekolah, lebih aktif dan kritis dikelas.
Tapi bila pola asuh orang tua pada anaknya dengan cara selalu memberiakan pola asuh yang keras dan tidak mendidik, akan berdampak pada anak menjadi anak yang selalu melawan orang tuanya, yang tidak mempedulikan omongan orang lain,dan kurang kritis dalam belajar serta kurang menyimak apa yang telah di paparkan oleh gurunya. Ketika dewasa juga akan berdampak pada psikologi anak,anak yang terbiasa hidup dengan kekerasan akan lebih emosional, kurang bisa menahan amarahnya,dan akan berbuat kasar pada siapa saja sesuai apa yang ia alami dari kecil. Sehingga hilang jiwa positive dalam dirinya, dan kurang aktif serta kurang kritis dalam belajar.
Maka dari itu disinilah peran orang tua sangat diperlukan untuk perkembangan anaknya. Pola asuh orang tua yang baik dan benar akan berdampak pada berhasil dan tidaknya anak disekolah dan aktif serta kritis tidaknya dikelas. Orang tua wajib memberikan pola asuh yang sebaik-baiknya pada anak-anaknya agar tumbuh sesuai dengan harapan yang diinginkan.
Kebanyakan orang tua lebih mempercayakan pendidikan anaknya kepada sang pendidik, orang tua kebanyakan santai dan tidak peduli terhadap apa yang yang terjadi pada anaknya. Padahal guru itu hanya beberapa jam bersama siswa sedang orang tua mempunyai waktu yang sangat banyak bersama sang anak, maka harusnya orang tualah yang sangat berperan dalam Berpikir kritis anak. Jadi yang perlu dibenahi disini adalah Berpikir orang tua yang mempercayakan pendidikan anaknya seratus persen pada pendidik.
Orang tua itu adalah orang yang paling berpengaruh terhadap apa yang akan terjadi pada anaknya. Jika orang tua malas mengajari anaknya belajar dan sebagainya,anak juga akan merasa malas dalam belajar, anak akan lebih suka bermain dan tidak memperdulikan prestasinya.
Jadi masalah terbesar dalam hal ini adalah bagaimana pola asuh orang tua terhadap anaknya agar menjadikan anaknya menjadi pribadi yang bertanggung jawab dalam segala hal, akan membuat anaknya lebih semangat dalam belajar dan lebih aktif serta kritis dalam belajar. Orang tua dalam hal ini harus ada dalm barisan paling depan dalam memberikan motivasi serta semangat pada anak agar anak menjadi anak yang berprestasi.